Berbagi Pengalaman; Balada Bekerja di Bimbingan Belajar

Kemarin, saya datang tersenyum begitu riang ke tempat saya bekerja, tidak seperti biasanya. Karena hari ini tepat setahun saya jadi pengajar di sebuah Bimbingan belajar, yang berada di depan sebuah SMA unggulan di Jakarta Timur. Sebuah bimbel yang baru saja membuka cabangnya sebulan sebelum saya diterima bekerja.

Saya mendapatkan info bekerja di bimbel ini pada sebuah pengumuman di kertas kucel bertulis tangan di lorong kampus saya terdahulu. Semua pengajar lain – rata-rata mahasiswa seperti saya yang saat itu juga melamar pekerjaan- melihat saya agak sinis, karena waktu itu saya masih jurusan Bahasa Jepang namun dapat mengajar program studi lain. Di hari saya menaruh CV saya dan wawancara, di hari itulah saya langsung diterima bekerja dan untuk pertama kalinya mengajar sebagai tutor Matematika.
Ada empat pengalaman menarik yang dapat saya simpulkan dan ingin ceritakan kepada teman-teman sekalian selama saya bekerja di bimbel tersebut ;

1. Rata-rata staf pengajar seperti saya pada saat melamar adalah mahasiswa dengan jurusan “high level” di fakultas terbaik kampus ternama di negeri ini. Saat mengerikan saat saya dengar dari mereka bahwa mereka mendaftar sebagai tutor hanya sebagai pelarian semata dan mengisi waktu luang. Saat mereka mendapatkan tempat bekerja lain dengan gaji dan fasilitas cukup tinggi,mereka langsung mengundurkan diri. Saya menyebut mereka dengan istilah “kutu loncat”.
Yang bukan kutu loncat adalah sarjana yang ketika mahasiswa adalah seorang “KUPER” –kurang pergaulan- yang tidak tau informasi akan pekerjaan yang lebih layak yang sesuai dengan jurusan mereka.

2. Sedih ketika menanyakan kepada siswa-siswa saya alasan mereka ikut bimbingan belajar, mereka bilang mereka ikut bimbel karena pengajaran di sekolah kurang baik dan berharap di bimbel mereka lebih menyerap pelajaran. Yang lebih menyakitkan lagi, kebanyakan lembaga bimbingan belajar menjadikan pendidikan sebagai bisnis semata dengan embel-embel yang beraneka ragam untuk menarik hati siswa. Hanya sedikit yang benar-benar memberikan kontribusi kepada anak-anak didiknya. Bimbel terjamin harganya sedikit lebih mahal. Dan disinilah persaingan bisnis bimbel dimulai. Saya sering bertanya kepada diri saya sendiri,”Mau kemana pendidikan di negara ini ? Kenapa bisa begini ?”

3. Saya berani bilang bahwa Pelajar jaman sekarang entah itu SD, SMP atau SMA kualitasnya lebih rendah dibanding dengan pelajar angkatan-angkatan sebelumnya walaupun mereka jauh lebih cerdas dari saya pada saat masa-masa sekolah. Kurikulum sekarang jauh lebih buruk dan perkembangan teknologi telah membutakan mereka. Kebanyakan pelajar mulai jenuh akan pengajaran yang tak jelas karena kurikulum yang selalu cepat berganti dan gila akan kemajuan teknologi tapi tidak tau kegunaan teknologi tersebut. Ada banyak alasan sehingga saya tak mampu menuliskannya disini. Tapi bila teman-teman punya adik yang masih sekolah, silahkan dibandingkan. Rata-rata pelajar sekarang lebih malas membuka buku, mungkin mereka muak akan sesuatu dan kemuakan itu terpancar dari wajah-wajah mereka saat belajar.


Bimbel ini sedikit banyak telah memberikan saya ilmu yang tidak saya dapatkan di kampus dan sedikit banyak mendewasakan saya dalam banyak hal. Saya merasa sangat beruntung Tuhan memberikan fase hidup ini dalam hidup saya.
..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

APLIKASI PERPUSTAKAAN DENGAN JAVA

Pengantar Kearsipan

Bahan Rujukan bagi Perpustakaan