COSPLAY; PENGHAYATAN KARAKTER DUNIA FANTASI JEPANG MELALUI BUDAYA BERMAIN KOSTUM
Kemarin dalam sebuah seminar di PSJ FIB dan AJB FISIP, saya hadir sebagai partisipant seminar yang diadakan dalam dua hari. Ada banyak hal yang diuraikan dalam seminar itu dari pemerintahan sampai perburuhan, tapi karena jadwal kuliah saya yang padat, saya hanya bisa mengikuti tiga sesi dan menurut saya, acara dan ilmu yang saya dapatkan cukup menarik.Yaitu;
1. Perkembangan Islam di Jepang ( Jepang adalah Sebuah negara Sekuler )
2. HIGASHIKUNIBARA sang Gubernur Perfektur Miyazaki –merupakan seorang comedian,orang Indonesia mengenalnya sebagai pemeran Pelayan Takeshi di “Takeshi Castle”-
Dan yang paling saya minati –dan hampir semua partisipant seminar- adalah;
3. COSPLAY ( COSTUME PLAY )
Cekidot !
COSPLAY
Sebuah Tesis Buah Pikiran Hesti Nurhayati ( Student of The Japanese Area Studies – NICHIBUNKEN- Post Graduate Program, FIB UI Class of 2008 - Alumni FH UI 2000).
Apa sih COSPLAY itu?
Frank Zeller ( Zeller, 2009 )
“COSPLAY is A Contraction of the words costume and play, cosplay is a craze born in Tokyo’s Harajuku fashion distric where teenagers have long been turning heads with eye-popping handmade costumes of manga and anime characters”
Situs Harajukustyle.net :
“ Cosplay is an abbreviation of Costume Play. It’s a Japanese subculture based on dressing like characters form manga,anime and video games”
Nobuyuki Takahashi (52) is “the Father of Cosplay” memperkenalkan sekaligus mempopulerkan istilah “COSPLAY” sepulang dari acara “MASQUARADE” di Los Angeles sci-fi convention 1984
MASQUARADE adalah pesta dansa kostum untuk “kalangan atas” yang berasa dari Venesia – Itali dan sudah diperkenalkan sejak abad ke 15 ( Zaman Renaissance ). Lalu populer di Inggris dan Amerika pada abad ke 17 dan 18.
Namun MASQUARADE di acara Los Angeles 1984 tidak sama dengan pesta dansa berkostum di Venesia pada abad ke 15, melainkan sebuah pesta kostum dengan karakter film sci-fi yang sedang populer di Amerika pada saat itu.
“Nenek moyang COSPLAY” sebenarnya sudah ada di Amerika sejak tahun 1960-an pada acara sci-fi conversations for Star Trek.
Takahashi mempopulerkan istilah COSPLAY karena istilah “MASQUARADE” yang identik dengan pesta glamour kaum borjuis tidak tepat dijadikan nama acara atau kegiatan bermain kostum karakter fiksi.
Karena peran Internet dan digital Photography, cosplay telah menjadi fenomena global subkultur, cosplay tidak hanya diminati anak muda Jepang saja tetapi juga anak muda diseluruh belahan dunia ikut mempopulerkannya.
TV nasional,para businessman dan politisi Jepang ikujt berperan dalam memanfaatkan fenomena ini dengan mefasilitasi pertemuan cosplayer di seluruh dunia dengan sebuah ajang yang disebut World Cosplay Summit di perfektur Aichi sejak tahun 2003 hingga saat ini. Sekarang sekolah dan kursus Cosplay pun didirikan begitu pula dengan “maid cafe” yang semakin menjamur di perfektur Akihabara.
Situs Jejaring sosial cosplay terbesar di Jepang telah memiliki 270.000 Anggota dan menarik 200 anggota baru perhari. 90% cosplayer adalah wanita dengan usia mayoritas belasan dan dua puluhan tahun.
Bagaimana Cosplay yang dikatakan “bernenek moyangkan” MASQUARADE bisa berkembang dan dikenal sebagai budaya populer yang mengglobal ?
PERMASALAHAN * Yang ini asli tulisan saya dan pemikiran dari beberapa partisipant–
Perlu diingat,Cosplay BUKAN kebudayaan asli Jepang !
Di setiap Japan Festival yang diadakan di Indonesia, Cosplay adalah pusat perhatian kegiatan tersebut. Beberapa sponsor yang “Asli Jepang” yang saya kenal sering terperangah geleng-geleng kepala dan mengeluh ketika Budaya Jepang ASLI yang seharusnya ditampilkan menghilang dan digantikan oleh subculture.
Seorang Jepang bertanya-tanya kepada saya, apa maksud acara cosplay itu sendiri sebagai pusat perhatian?
Mana Budayanya ? ( Dosen tercinta saya selalu menanyakan ini pada saya )
Adakah essensi khusus dari Cosplay itu sendiri terhadap Indonesia ?
And the answer is NO!
Hati-hati! Salah satu kegiatan propoganda Jepang adalah melalui ‘budaya’nya yang satu ini.
Asep Kambali ( pendiri Komunitas Hisrotia Indonesia 2002 ) pernah mengutip, ”Untuk menghancurkan suatu bangsa,hancurkan dulu sejarah generasi mudanya”
Kalau saya agak sedikit berbeda, “Kalau ingin menghancurkan suatu bangsa, hancurkan dulu budaya aslinya”
Apa pendapat anda mengenai frase ini?
015 DMN
1. Perkembangan Islam di Jepang ( Jepang adalah Sebuah negara Sekuler )
2. HIGASHIKUNIBARA sang Gubernur Perfektur Miyazaki –merupakan seorang comedian,orang Indonesia mengenalnya sebagai pemeran Pelayan Takeshi di “Takeshi Castle”-
Dan yang paling saya minati –dan hampir semua partisipant seminar- adalah;
3. COSPLAY ( COSTUME PLAY )
Cekidot !
COSPLAY
Sebuah Tesis Buah Pikiran Hesti Nurhayati ( Student of The Japanese Area Studies – NICHIBUNKEN- Post Graduate Program, FIB UI Class of 2008 - Alumni FH UI 2000).
Apa sih COSPLAY itu?
Frank Zeller ( Zeller, 2009 )
“COSPLAY is A Contraction of the words costume and play, cosplay is a craze born in Tokyo’s Harajuku fashion distric where teenagers have long been turning heads with eye-popping handmade costumes of manga and anime characters”
Situs Harajukustyle.net :
“ Cosplay is an abbreviation of Costume Play. It’s a Japanese subculture based on dressing like characters form manga,anime and video games”
Nobuyuki Takahashi (52) is “the Father of Cosplay” memperkenalkan sekaligus mempopulerkan istilah “COSPLAY” sepulang dari acara “MASQUARADE” di Los Angeles sci-fi convention 1984
MASQUARADE adalah pesta dansa kostum untuk “kalangan atas” yang berasa dari Venesia – Itali dan sudah diperkenalkan sejak abad ke 15 ( Zaman Renaissance ). Lalu populer di Inggris dan Amerika pada abad ke 17 dan 18.
Namun MASQUARADE di acara Los Angeles 1984 tidak sama dengan pesta dansa berkostum di Venesia pada abad ke 15, melainkan sebuah pesta kostum dengan karakter film sci-fi yang sedang populer di Amerika pada saat itu.
“Nenek moyang COSPLAY” sebenarnya sudah ada di Amerika sejak tahun 1960-an pada acara sci-fi conversations for Star Trek.
Takahashi mempopulerkan istilah COSPLAY karena istilah “MASQUARADE” yang identik dengan pesta glamour kaum borjuis tidak tepat dijadikan nama acara atau kegiatan bermain kostum karakter fiksi.
Karena peran Internet dan digital Photography, cosplay telah menjadi fenomena global subkultur, cosplay tidak hanya diminati anak muda Jepang saja tetapi juga anak muda diseluruh belahan dunia ikut mempopulerkannya.
TV nasional,para businessman dan politisi Jepang ikujt berperan dalam memanfaatkan fenomena ini dengan mefasilitasi pertemuan cosplayer di seluruh dunia dengan sebuah ajang yang disebut World Cosplay Summit di perfektur Aichi sejak tahun 2003 hingga saat ini. Sekarang sekolah dan kursus Cosplay pun didirikan begitu pula dengan “maid cafe” yang semakin menjamur di perfektur Akihabara.
Situs Jejaring sosial cosplay terbesar di Jepang telah memiliki 270.000 Anggota dan menarik 200 anggota baru perhari. 90% cosplayer adalah wanita dengan usia mayoritas belasan dan dua puluhan tahun.
Bagaimana Cosplay yang dikatakan “bernenek moyangkan” MASQUARADE bisa berkembang dan dikenal sebagai budaya populer yang mengglobal ?
PERMASALAHAN * Yang ini asli tulisan saya dan pemikiran dari beberapa partisipant–
Perlu diingat,Cosplay BUKAN kebudayaan asli Jepang !
Di setiap Japan Festival yang diadakan di Indonesia, Cosplay adalah pusat perhatian kegiatan tersebut. Beberapa sponsor yang “Asli Jepang” yang saya kenal sering terperangah geleng-geleng kepala dan mengeluh ketika Budaya Jepang ASLI yang seharusnya ditampilkan menghilang dan digantikan oleh subculture.
Seorang Jepang bertanya-tanya kepada saya, apa maksud acara cosplay itu sendiri sebagai pusat perhatian?
Mana Budayanya ? ( Dosen tercinta saya selalu menanyakan ini pada saya )
Adakah essensi khusus dari Cosplay itu sendiri terhadap Indonesia ?
And the answer is NO!
Hati-hati! Salah satu kegiatan propoganda Jepang adalah melalui ‘budaya’nya yang satu ini.
Asep Kambali ( pendiri Komunitas Hisrotia Indonesia 2002 ) pernah mengutip, ”Untuk menghancurkan suatu bangsa,hancurkan dulu sejarah generasi mudanya”
Kalau saya agak sedikit berbeda, “Kalau ingin menghancurkan suatu bangsa, hancurkan dulu budaya aslinya”
Apa pendapat anda mengenai frase ini?
015 DMN
Komentar
Posting Komentar