Sejarah dan Filsafat Perpustakaan
Dari perkembangan sejarah serta prinsip kepustakawanan yang ditarik berdasarkan perjalanan panjang sejarah perpustakaan, maka dapat mengambil keartian atau murad (significance) perpustakaan sebagai berikut :
(1) Perpustakaan adalah bumbu utama masyarakat yang beradab.
(2) Perpustakaan itu ada untuk memenuhi keperluan yang diakui masyarakat, kebutuhan ini akan menentukan bentuk, tujuan, fungsi, program dan jasa perpustakaan.
(3) Kondisi tertentu seperti ekonomi, teknologi, ilmu pen¬getahuan, geografi, budaya dan sosial akan mendorong pengembangan perpustakaan. Bila kondisi tersebut tidak ada, maka perpustakaan akan mundur dan bahkan mungkin lenyap dari masyarakat.
(4) Adanya teknologi informasi membuat jasa perpustakaan lebih tersedia dan lebih menarik karena koleksi perpustakaan tidak saja terbatas media tercetak melainkan juga media noncetak dan multimedia.
Filsafat kepustakawanan
Filsafat kepustakawanan terdiri atas batang tubuh pengetahuan dan keyakinan yang menyediakan landasan utama untuk menemukan pemecahan terhadap berbagai masalah yang dihadapi oleh berbagai jenis perpustakaan. Filsafat merupakan keharusan bagi pustakawan. Filsafat ini akan membantu pustakawan dalam mengembangkan suatu landasan dan dari landasan ini pustakawan akan mendasari seluruh pendekatannya teradap kepustakawanan. Dalam masyarakat yang berubah dengancepat pustakawan perlu memiliki filosofi sendiri karena filosofi ini akan memungkinkan pustakawan menentukan pemecahan atas masalah baru yang dihadapinya dalam pekerjaaan sehari-hari.
Seorang pustakawan yang memiliki filosofi akan lebih dihargai oleh rekan dan orang lain daripada yang tidak memiliki filosofi. Berdasarkan filosofi maka orang lain akan dapat memahami mengapa seseorang berpendirian.
Sebuah filosofi merupakan indikator motif, sasaran, pandangan terhadap situasi dan umat manusia. Filosofi yang dianut seorang pustakawan harus berdasarkan ancangan ilmiah, namun harus mempertimbangkan kebutuhan, idelisme dan aspirasi masyarakat yang dilayaninya. Perubahan sosial merupakan sebuah perubahan yang tidak dapat dihindari. Misalnya perubahan politik Indonesia dari Orde Lama ke Orde Baru dan kemudian ke Orde Reformasi dan seterusnya. Maka filosofi dapat berubah, dimodifikasi dan digantikan dengan dengan filosofi baru guna memenuhi kebutuhan masyarakat yang berubah.
Dalam berbagai tulisan filsafat kepustakawanan merupakan identifikasi dan artikulasi prinsip utama yang mendasari kegiatan praktis jasa perpustakaan dan informasi, terutama yang berkaitan dengan kebijakan koleksi, konservasi, akses dan fungsi perpustakaan dalam masyarakat. Prinsip ini telah berkembang selama lebih dari 2500 tahun dan dapat dibagi menjadi tig fase historis yaitu periode awal, abad kesembilan belas dan abad duapuluh.
Periode awal
Perpustakaan paling dini didirikan terutama berdasarkan prinsip pengadaan sistematis dam komprehensif sebagaimana nampak pada perpustakaan clay tablet yang besar di Nineveh yang didirikan oleh Ashurbanipal, raja Assyrian 668-624 SM dan koleksi papyrus pada perpustakaan Alexandria yang didirikan oleh Ptolemeus Soter sekitar tahun 300 SM. Namun demikian, selama 1000 tahun sesudah keruntuhan imperium Roma, koleksi berupa tulisan pada perkamen dalam bentuk codex berjumlah kecil namun dirawat dan dijaga secara ketat. Bahkan ketika koleksi perpustakaan bertambah seiring dengan munculnya buku tercetak, filosofi accretion dan retensi tetap dominan. Dalam hubungannya dengan masyarakat, perpustakaan tetap diasosiasikan dengan kekuatan, temporer atau gerejani. Hal itu dibuktikan dengan ditempatkannnya perpustakaan di istana atau di biara dan katedral.
Paradigma atau cara memandang sesuatu pada masa ini adalah pengumpulan buku sebanyak-banyaknya. Maka tidaklah mengherankan bilamana perpustakaan purba berlomba-komba mengumpulkan manuskrip sebanyak-banyaknya, bilamana perlu dengan cara tidak jujur. Sebagai contoh perpustakaan Alexandria meminjam manuskrip dari Yunani, manuskrip tersebut kemudian disalin, lalu salinanya dikembalikan ke Yunani sedangkan manuskrip aslid disimpan di Alexandria! Contoh lain untuk mencegah agar perpustakaan negara lain tidak memiliki bahan tulis berupa papyrus, maka penguasa Mesir melarang ekspor papyrus ke negara lain! Akibatnya negara lain kekurangan papyrus sebagai bahan tulis dan akibat lanjutannya ialah perpustakaan tidak memiliki manuskrip. Maka kerajaan lain mengembangkan vellum sebagai bahan tulis.
Abad kesembilanbelas
Prinsip pengadaan yang sistematis dan komprehensif tetap dipertahankan selama abad 19, hal ini dimanifestasikan dengan pertumbuhan perpustakaan nasional, khususnya British Museum Library di bawah pimpinan Antony Panizzi dari tahun 1837 dan Library of Congress di bawah pustakawannya yang pertama bernama Ainsowrth Rand Spofford. Kedua-duanya berupaya menjalankan undang-undang deposit dan kedua-duanya memusatkan kegiatan mereka pada pengadaan. Bila pengadaan merupakan prioritas pertama maka prioritas kedua adalah akses bagi semua pihak terhadap koleksi yang telah dikumpulkan. Hal kedua ini terutama ditekankan oleh Panizzi. Bagian penting dari akses ialah penataan perpustakaan untuk digunakan bukannya untuk retensi dan konservasi. Pada penataan koleksi ini muncul nama-nama seperti Melvil Dewey, Charles Ammi Cutter dan William Frederick Poole. Paradigma yang ada pada periode ini ialah kegiatan pengolahan. Maka muncul berbagai peraturan pengkatalogan dan klasifikasi, sebahagian di antaranya masih digunakan sampai sekarang.
Munculnya era buku tercetak, kebangkitan demokrasi dan penyebaran pendidikan pada paro kedua abad 19 di Inggeris dan Amerika Serikat melahirkan perpustakaan umum. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa perpustakaan diciptakan oleh masyarakat dan mencerminkan apa yang diinginkan masyarakat. Beberapa pendiri kepustakawanan Amerika seperti Melvil Dewey, John Cotton Dana, Sam Walter Foss memandang perpustakaan sebagai perpanjangan sistem pendidikan umum dan karena itu memperhatikan adminsitrasi perpustakaan umum sebagai institusi publik.
Abad 20.
Prinsip pengadaan yang komprehensif menjadi kabur pada paro kedua abad dua puluh karena munculnya perpustakaan dengan koleksi jutaan buku serta masalah yang timbul akibat koleksi jutaan itu dalam bentuk gabungan masalah organisasi, ekonomi, ruang menyadarkan pustakawan bahwa pertumbuhan koleksi yang tidak terbatas tidak dapat dilanjutkan lagi. Ironisnya, setelah lama diabaikan, kini konservasi dihidupkan lagi sebagai isu pemeliharaan (kuratorial), dipicu oleh kerusakan buku pada perpustakaan besar. Yang muncul pada paro kedua abad 20 ialah konsep filosofis bahwa perpustakaan tidak dapat hanya merupakan gudang ilmu pengetahuan melainkan juga arus menyebarkan pengetahuan dan informasi tersebut ke masyarakat. Maka kini tekanan lebih banyak pada akses dan penggunaan koleksi perpustakaan.
Komentar
Posting Komentar