Pengaruh Shinto terhadap Pemikiran Jepang

Akhir-akhir ini saya lagi sibuk mengajar dan kegiatan organisasi. Jadi rada males membuat postingan tulis. Makanya saya ada ide mengkopi makalah kuliah saya.
Mata kuliah ini cuma dapet nilai B.
Jujur, saya tertarik sekali dengan agama Jepang yang satu ini, dan ini berhubungan dengan postingan saya sebelumnya tentang COSPLAY. Karena itulah topik ini saya angkat.

BAB I
Pendahuluan
1.1 Pendahuluan
Di zaman yang sangat modern ini, masyarakat Jepang masih tetap memelihara dan memegang teguh kepercayaan Shinto, padahal Shinto adalah agama kuno yang lahir dari kepercayaan animisme. Hal yang menarik bagi kita perhatikan adalah apakah Shinto masih memiliki pengaruh yang penting bagi masyarakat Jepang saat ini di tengah besarnya pengaruh budaya Barat yang masuk ke Jepang dan kemajuan teknologi yang pesat. Dan apakah Shinto dapat mempertahankan keaslian tradisi Jepang dari pengaruh-pengaruh tersebut ?
1.2 Latar Belakang
Pada perang dunia kedua Shinto adalah agama resmi Jepang. Namun, sulit bagi kita untuk mengklasifikan Shinto sebagai agama atau sekedar kepercayaan nenek moyang .Di satu sisi, dapat dilihat sebagai sekadar bentuk animisme dan dapat dianggap sebagai agama primitif. Di sisi lain, kepercayaan Shinto dan cara berpikir yang sangat tertanam dalam struktur bawah sadar masyarakat Jepang modern. Akhirat bukan merupakan perhatian utama dalam Shinto, dan banyak lagi penekanan pada sepatutnya ke dalam dunia ini, bukannya mempersiapkan untuk berikutnya. Shinto tidak mengikat seperangkat dogma, tidak ada tempat tersuci pemuja, tidak ada orang atau kami dianggap paling suci, dan tidak didefinisikan serangkaian doa-doa. Sebaliknya, Shinto adalah kumpulan ritual dan metode yang dimaksudkan untuk memediasi hubungan manusia untuk hidup kami. Praktik ini berasal organik di Jepang selama rentang waktu berabad-abad dan telah dipengaruhi oleh Jepang kontak dengan agama-agama bangsa-bangsa lain, terutama China. Perhatikan, misalnya, bahwa kata Shinto itu sendiri adalah keturunan China dan bahwa banyak dari mitologi Shinto kodifikasi dilakukan dengan tujuan eksplisit menjawab pengaruh budaya China. Sebaliknya, Shinto telah dan terus memiliki dampak terhadap praktik agama-agama lain di Jepang. Secara khusus, salah satu bahkan bisa membuat sebuah kasus untuk membahas hal itu di bawah judul Buddhisme Jepang, karena kedua agama telah melakukan pengaruh yang mendalam satu sama lain sepanjang sejarah Jepang. Jepang "agama baru" yang muncul sejak akhir Perang Dunia Kedua juga menunjukkan pengaruh Shinto yang jelas.
Konsep dalam agama Shinto yang paling mencolok adalah cinta dan penghormatan terhadap alam. Dengan demikian, air terjun, bulan, atau hanya sebuah batu berbentuk aneh mungkin akan datang harus dianggap sebagai kami; begitu mungkin karismatik orang atau entitas yang lebih abstrak seperti pertumbuhan dan kesuburan.
BAB II
ISI
TENTANG SHINTO
2.1 Pengertian
Shinto adalah kata majemuk daripada “Shin” dan “To”. Arti kata “Shin” adalah “roh” dan “To” adalah “jalan”. Jadi “Shinto” mempunyai arti lafdziah “jalannya roh”, baik roh-roh orang yang telah meninggal maupun roh-roh langit dan bumi. Kata “To” berdekatan dengan kata “Tao” dalam taoisme yang berarti “jalannya Dewa” atau “jalannya bumi dan langit”. Sedang kata “Shin” atau “Shen” identik dengan kata “Yin” dalam taoisme yang berarti gelap, basah, negatif dan sebagainya ; lawan dari kata “Yang”. Dengan melihat hubungan nama “Shinto” ini, maka kemungkinan besar Shintoisme dipengaruhi faham keagamaan dari Tiongkok.
Sedangkan Shintoisme adalah faham yang berbau keagamaan yang khusus dianut oleh bangsa Jepang sampai sekarang. Shintoisme merupakan filsafat religius yang bersifat tradisional sebagai warisan nenek moyang bangsa Jepang yang dijadikan pegangan hidup. Tidak hanya rakyat Jepang yang harus menaati ajaran Shintoisme melainkan juga pemerintahnya juga harus menjadi pewaris serta pelaksana agama dari ajaran ini.

2.2 Sejarah Shinto
Shinto mempunyai sejarah yang cukup panjang dan cukup tua yaitu dimulai dari masa jaman period (11.500-300 BC) ada indikasi masyarakat pada jaman tersebut sudah menjalani ritual Samanisme yang mirip dengan ritual Shinto sekarang. Kemudian pada masa Kofun period (250-552 CE) mulai ditemukan catatan yang lebih lengkap tentang kepercayaan ini. Kuil kuno Ise dan kuil Izumo Taisha yang terletak di barat daya dan timur laut kepulauan Jepang adalah beberapa di antara kuil yang dibangun pada masa ini dan masih berdiri hingga kini. Menurut catatan sejarah, tempat suci agama Shinto pada awalnya kebanyakan tidak memiliki bangunan apapun dan pendirian bangunan ini dimulai kaerena pengaruh dari agama budha yang masuk pada saat itu.
Nama Shinto muncul setelah masuknya agama Buddha ke Jepang pada abad keenam masehi yang dimaksudkan untuk menyebut kepercayaan asli bangsa Jepang. Selama berabad-abad antara agama Shinto dan agama Buddha telah terjadi percampuran yang sedemikian rupa (bahkan boleh dikatakan agama Shinto berada di bawah pengaruh kekuasaan agama Buddha) sehingga agama Shinto senantiasa disibukkan oleh usaha-usaha untuk mempertahankan kelangsungan “hidupnya” sendiri.
Pada perkembangan selanjutnya, dihadapkan pertemuan antara agama Budha dengan kepercayaan asli bangsa Jepang (Shinto) yang akhirnya mengakibatkan munculnya persaingan yang cukup hebat antara pendeta bangsa Jepang (Shinto) dengan para pendeta agama Buddha, maka untuk mempertahankan kelangsungan hidup agama Shinto para pendetanya menerima dan memasukkan unsur-unsur Buddha ke dalam sistem keagamaan mereka. Akibatnya agama Shinto justru hampir kehilangan sebagian besar sifat aslinya. Misalnya, aneka ragam upacara agama bahkan bentuk-bentuk bangunan tempat suci agama Shinto banyak dipengaruhi oleh agama Buddha. Patung-patang dewa yang semula tidak dikenal dalam agama Shinto mulai diadakan dan ciri kesederhanaan tempat-tempat suci agama Shinto lambat laun menjadi lenyap digantikan dengan gaya yang penuh hiasan warna-warni yang mencolok.
Tentang pengaruh agama Buddha yang lain nampak pada hal-hal seperti anggapan bahwa dewa-dewa Shintoisme merupakan Awatara Buddha (penjelmaan dari Buddha dan Bodhisatwa), Dainichi Nyorai (cahaya besar) merupakan figur yang disamakan dengan Waicana (salah satu dari dewa-dewa penjuru angin dalam Budhisme Mahayana), hal ini berlangsung sampai abad ketujuh belas masehi.
Setelah abad ketujuh belas timbul lagi gerakan untuk menghidupkan kembali ajaran Shinto murni di bawah pelopor Kamamobuchi, Motoori, Hirata, Narinaga dan lain-lain dengan tujuan bangsa Jepang ingin membedakan “Badsudo” (jalannya Buddha) dengan “Kami” (roh-roh yang dianggap dewa oleh bangsa Jepang) untuk mempertahankan kelangsungan kepercayaannya.
Kemudian pada masa restorasi Meiji, Shinto ditetapkan menjadi agam resmi Negara namun setelah perang dunia kedua jepang, status Shinto sebagai agama Negara berakhir karena jepang beralih menjadi negara sekular dan agama dianggap tidak lebih sebagai kegiatan budaya.

A. Kepercayaan Shinto
Dalam agama Shinto yang merupakan perpaduan antara faham serba jiwa (animisme) dengan pemujaan terhadap gejala-gejala alam mempercayai bahwasanya semua benda baik yang hidup maupun yang mati dianggap memiliki ruh atau spirit, bahkan kadang-kadang dianggap pula berkemampuan untuk bicara, semua ruh atau spirit itu dianggap memiliki daya kekuasaan yang berpengaruh terhadap kehidupan mereka (penganut Shinto), daya-daya kekuasaan tersebut mereka puja dan disebut dengan “Kami” .
Istilah “Kami” dalam agama Shinto dapat diartikan dengan “di atas” atau “unggul”, sehingga apabila dimaksudkan untuk menunjukkan suatu kekuatan spiritual, maka kata “Kami” dapat dialih bahasakan (diartikan) dengan “Dewa” (Tuhan, God dan sebagainya). Jadi bagi bangsa Jepang kata “Kami” tersebut berarti suatu objek pemujaan yang berbeda pengertiannya dengan pengertian objek-objek pemujaan yang ada dalam agama lain.
Dewa-dewa dalam agama Shinto jumlahnya tidak terbatas, bahkan senantiasa bertambah, hal ini diungkapkan dalam istilah “Yao-Yarozuno Kami” yang berarti “delapan miliun dewa”. Menurut agama Shinto kepercayaan terhadap berbilangnya tersebut justru dianggap mempunyai pengertian yang positif. Sebuah angka yang besar berarti menunjukkan bahwa para dewa itu memiliki sifat yang agung, maha sempurna, maha suci dan maha murah. Oleh sebab itu angka-angka seperti 8, 80, 180, 5, 100, 10, 50, 100, 500 dan seterusnya dianggap sebagai angka-angka suci karena menunjukkan bahwa jumlah para dewa itu tidak terbatas jumlahnya. Dan seperti halnya jumlah angka dengan bilangannya yang besar maka bilangan itu juga menunjukkan sifat kebesaran dan keagungan “Kami”.
Pengikut-pengikut agama Shinto mempunyai semboyan yang berbunyi “Kami nagara-no-mishi” yang artinya : tetap mencari jalan dewa. Kepercayaan kepada “Kami” daripada benda-benda dan seseorang, keluarga, suku, raja-raja sampai kepada “Kami” alam raya menimbulkan kepercayaan kepada dewa-dewa. Orang Jepang (Shinto) mengakui adanya dewa bumi dan dewa langit (dewa surgawi) dan dewa yang tertinggi adalah Dewi Matahari (Ameterasu Omikami) yang dikaitkan dengan pemberi kamakmuran dan kesejahteraan serta kemajuan dalam bidang pertanian.
Disamping mempercayai adanya dewa-dewa yang memberi kesejahteraan hidup, mereka juga mempercayai adanya kekuatan gaib yang mencelakakan, yakni hantu roh-roh jahat yang disebut dengan Aragami yang berarti roh yang ganas dan jahat. Jadi dalam Shintoisme ada pengertian kekuatan gaib yang dualistis yang satu sama lain saling berlawanan yakni “Kami” versus Aragami (Dewi melawan roh jahat) sebagaimana kepercayaan dualisme dalam agama Zarathustra.
Dari kutipan di atas dapat dilihat adanya tiga hal yang terdapat dalam konsepsi kedewaan agama Shinto, yaitu :
1. Dewa-dewa yang pada umumnya merupakan personifikasi dari gejala-gejala alam itu dianggap dapat mendengar, melihat dan sebagainya sehingga harus dipuja secara langsung.
2. Dewa-dewa tersebut dapat terjadi (penjelmaan) dari roh manusia yang sudah meninggal.
3. Dewa-dewa tersebut dianggap mempunyai spirit (mitama) yang beremanasi dan berdiam di tempat-tempat suci di bumi dan mempengaruhi kehidupan manusia.

B. Shinto dan Ajarannya

 Tidak mengenal ajaran apapun
Shinto adalah agama kuno yang merupakan campuran dari animisme dan dinamisme yaitu suatu kepercayaan primitif yang percaya pada kekuatan benda, alam atau spirit. Kepercayaan tua semacam ini biasanya penuh berbagai ritual dan perayaan yang biasanya berhubungan dengan musim, seperti musim panen, roh, spirit dan lain-lain. Sejak awal sebenarnya secara natural manusia menyadari bahwa mereka bukanlah makhluk kuat dan diluar mereka ada kekuatan lain yang lebih superior yang langsung ataupun tidak lansung berpengaruh terhadap kehidupan mereka sehari-hari.
Pengakuan, kekaguman, ketakutan, dan juga kerinduan pada Spirit atau “Kekuatan Besar” yang disebut dengan nama Kami atau Kamisama itu diwujudkan dalam bentuk tarian, upacara, dan festival. Layaknya suatu kepercayaan yang berakar dari Animisme, umumnya tidak memiliki ajaran khusus yang harus dipelajari, demikian juga halnya dengan agama Shinto. Jadi, agama ini sama sekali tidak memiliki buku khusus ataupun kitab suci yang harus dipelajari sehingga pelajaran ataupun ceramah agama dan sejenisnya tentu saja tidak ada. Disamping itu Shinto juga tidak mengenal istilah nabi yang berfungsi sebagai “Founding Father” karena dari awal agama ini muncul secara alami di masyarakat.

 Tidak mengenal ritual mengorbankan binatang
Upacara ritual dengan mengorbankan binatang sepertinya adalah umum ditemukan pada kepercayaan masyarakat lama. Sebagian kecil wilayah di Indonesia mungkin mengenal tradisi menanam kepala kerbau sebagai ritual untk pembangunan atau peresmian bangunan baru. Namun, pada kepercayaan semacam ini sama sekali tidak dikenal dalam tradisi Shinto. Hal ini tentu saja menarik karena bisa dikatakn sangat bertolak belakang dengan tradisi animisme pada umumnya.

 Shinto adalah Pemuja Alam
Hal ini bisa dilihat dari tradisi Shinto yang memberikan penghormatan yang sangat tinggi kepada alam. Pohon besar misalnya tidak boleh sembarangan ditebang karena percaya ada Kami yang berdiam di dalamnya. Kebanyakan penduduk jaman dulu akan taat dan tidak merusak tempat alam atau bahkan terkadang jalan tanpa melewati hutan, gunung bahkan pulau tertentu karena dipercaya adanya Kami yang bersemayam di tempat tersebut.
Salah satu contoh kecil dari penghormatan yang tinggi kepada tumbuhan adalah pada saat makan, yaitu hormat terhadap makanan khususnya beras. Sehingga hal inilah yang menyebabkan kebanyakan orang Jepang yang anti untuk menyisakan nasi bahkan dimakan sampai butir terakhir karena dianggap tidak menghormati roh yang hidup di dalamnya. Dengan konsep kepercayaan yang sangat sederhana seperti ini bisa dibilang mereka cukup termasuk sukses menjaga kelestarian alamnya. Sekedar catatan tambahan, saat ini, tempat yang bisa dihuni di Jepang hanyalah 30% dari luas dataran yang ada, selebihnya 70% masih berupa gunung dan bukit. Walaupun angka ini tidak menjelaskan secara langsung hubungan antara kedua variabel ini secara ilmiah, namun sepertinya hal ini tidak terlepas dari konsep Shinto sebagai pemuja alam. Kuil shinto juga umumnya selalu dipenuhi dengan sejumlah pohon besar yang sudah berumur ratusan tahun. Bukan pemandangan yang aneh di negara Jepang jika seandainya suatu kali Anda melihat sebuah pohon besar yang tumbuh gagah tepat di tengah jalan serta sebuah kuil kecil didekatnya yang berdiri entah sejak kapan, tanpa ada yang berani atau berniat menggusurnya.

 Konsep Tuhan menurut Shinto
Tradisi Shinto mengenal beberapa nama Dewa yang bagi Shinto bisa juga berarti Tuhan yang dalam bahasa Jepang disebut dengan istilah Kami atau Kamisama. Kamisama ini bersemayam atau hidup di berbagai ruang dan tempat, baik benda mati maupun benda hidup. Pohon, hutan, alam, sungai, batu besar, bunga sehingga wajib untuk dihormati. Penamaan Tuhan dalam kepercayaan Shinto bisa dibilang sangat sederhana yaitu kata Kami ditambah kata benda. Tuhan yang berdiam di gunung akan menjadi Kami no Yama, kemudian Kami no Kawa (Tuhan Sungai), Kami no Hana (Tuhan Bunga) dan Dewa/Tuhan tertingginya adalah Dewa Matahari (Ameterasu Omikami) yang semuanya harus dihormati dan dirayakan dengan perayaan tertentu.
Jadi inti dari konsep Tuhan dalam kepercayaan Shinto adalah sangat sederhana yaitu ”semua benda di dunia, baik yang bernyawa ataupun tidak, pada hakikatnya memiliki roh, spirit atu kekuatan jadi wajib dihormati” . konsep ini memiliki pengaruh langsung didalam kehidupan masyarakat Jepang.Misalnya seperti, seni Ikebana atau merangkai bunga yang berkembang pesat di Jepang karena salahsatunya dilandasi konsep Shinto tentang Spirit atau Tuhan yang bersemayam pada bunga serta tumbuhan yang harus dihormati.

 Hubungan antara Manusia dengan Tuhan(Dewa)
Hubungan antara Kami dengan manusia menurut konsep Shinto juga cukup unik kaerna polanya cenderung tidak bersifat Vertikal, namun lebih banyak bersifat horizontal. Kami hidup dan berada dibawah gunung, hutan, laut, atau di tengah perkampungan penduduk yang ditandai dengan berdirinya kuil penjaga desa.
Jadi konsep Tuhan di atas atau langit dan manusia di bumi sepertinya kurang tepat untuk kepercayaan Shinto. Mikoshi atau Dashi sebagai perwujudan dari kereta bagi Kami, yang digotong beramai-ramai selam festival di kuil mungkin salah satu contoh menarik. ”Kereta Tuhan” ini tidaklah diarak dengan hormat dan khidmad namun diguncang guncangkan, dibentur-benturkan. Dinaiki beramai-ramai bahkan tidak jarang diduduki pada bagian atapnya oleh beberarapa orang selama proses prosesi.

 Konsep Dosa
Salah satu tokoh Shinto Shimogamo Shrine mengatakan bahwa, Shinto tidak mengajarkan adanya perbuatan dosa. Jika melakukan perbuatan tertentu yang menciptakan dosa seseorang harus mau dibersihkan semata-mata untuk ketenangan pikiran sendiri dan nasib baik, dan bukan karena dosa yang salah dalam dan dari dirinya sendiri. Perbuatan jahat dan salah disebut "Kegare",. "cerah" atau hanya "baik". Membunuh apa pun untuk dapat bertahan hidup harus dilakukan dengan rasa syukur dan melanjutkan ibadah. Jepang Modern terus menempatkan penekanan pada pentingnya "aisatsu" atau ritual frasa dan salam. Sebelum makan, orang harus mengucapkan "itadakimasu",. "Saya akan dengan rendah hati menerima", dalam rangka untuk menunjukkan rasa syukur dari makanan pada khususnya dan umumnya kepada semua makhluk hidup yang kehilangan nyawa mereka untuk membuat makanan. Kegagalan untuk menunjukkan rasa hormat yang tepat adalah tanda kebanggaan dan kurangnya kepedulian terhadap orang lain.

 Konsep surga dan neraka ataupun ajaran tentang kehidupan alam akhirat
Sepertinya adalah hal yang umum ditemukan pada ajaran agama ataupun kepercayaan primitif sekalipun. Shinto sepertinya memiliki tradisi yang sedikit menyimpang. Konsep surga dan neraka hampir tidak disentuh sama sekali dalam kepercayaan Shinto. Hal ini bisa dilihat dari hampir tidak ditemukannya ritual upacara kematian pada tradisi Shinto. Ritual dan tata cara pemakaman di Jepang sepenuhnya dilakukan dengan tata cara agama Budha dan sisanya menggunakan ritual agama Kristen. Kuburan dan tempat makam juga umumnya berada di bawah organisasi kedua agama tersebut. Sepertinya ritual Shinto lebih difokuskan pada kehidupan pada kehidupan duniawi atau kehidupan sekarang terutama yang berhubungan dengan alam khususnya keselarasan antara manusia dengan alam sekitarnya.

C. Peribadatan agama Shinto
Agama Shinto sangat mementingkan ritus-ritus dan memberikan nilai sangat tinggi terhadap ritus yang sangat mistis. Menurut agama Shinto watak manusia pada dasarnya adalah baik dan bersih. Adapun jelek dan kotor adalah pertumbuhan kedua, dan merupakan keadaan negatif yang harus dihilangkan melalui upacara pensucian (Harae). Karena itu agama Shinto sering dikatakan sebagai agama yang dimulai dengan dengan pensucian dan diakhiri dengan pensucian. Upacara pensucian (Harae) senantiasa dilakukan mendahului pelaksanaan upacara-upacara yang lain dalam agama Shinto.
Ritus-ritus yang dilakukan dalam agama Shinto terutama adalah untuk memuja dewi Matahari (Ameterasu Omikami) yang dikaitkan dengan kemakmuran dan kesejahteraan serta kemajuan dalam bidang pertanian (beras), yang dilakukan rakyat Jepang pada Bulan Juli dan Agustus di atas gunung Fujiyama.

D. Konsep Doa dan Sembahyang
 Tidak mengenal konsep Ibadah
Kepercayaan Shinto di Jepang sepertinya kurang popular dengan konsep ibadah yaitu menyebah dengan tujuan memuji dan menganggungkan kebesaran Kami atau Tuhan. Mereka cenderung lebih dekat dengan konsep ”doa” yaitu menyembah dengan tujuan ”meminta sesuatu” kepada Dewa seperti agar panen musim ini melimpah, diberikan kesehatan, umur panjang, dan berbagai permintaan yang besifat duniawi. Kebanyakan tempat ibadah di negara Jepang, baik Jinja ataupun Tera (budhha) adalah berfungsi juga sebagai tempat wisata yang menjadikan pengunjung selain berwisata juga bisa berdoa.
 Berdoa cukup setahun sekali
Secara umum biasanya kebanyakan dari masyarakat Jepang meluangkan waktunya untuk berdoa di akhir atau awal tahun baru. Jadi berdoa atau sembahyang dilakukan cukup setahun sekali. Sehingga bukanlah pemandangan yang aneh kalau perayaan tahun baru di negara ini cenderung sepi dari keramaian pesta karena kebanyakan pendududk khususnya golongan muda melewatkan pergantian tahun di kuil untuk berdoa. Biasanya mereka yang tidak sempat berdoa pada malam pergantian tahun akan melakukan sehari setelah itu, yaitu tanggal 1 Januari.

 Tata cara berdoa menurut Shinto
Mengenai tata cara sembahyang atau doa dalam kuil Shinto sangatlah sederhana yaitu melemparkan sekeping uang logam sebagai sumbangan di depan altar, mencakupkan kedua tangan di dada dan selesai. Jadi semua proses berdoa yang dilakukan dengan berdiri ini tidak lebih dari sepuluh detik. Doa dilakukan tidak mengenal hari atau jam khisu jadi bebas dilakukan kapan saja. Tata cara berdoa di kuil Shinto dengan kuil Budha sangatlah mirip, yang membedakan jika di kuil Budha tangan dicakupkan ke depan dada dengan pelan, hening dan tanpa suara, sedangkan kuil Shinto adalah sebaliknya yaitu mencakupkan tangan dengan keras sehingga menghasilkan suara sebanyak dua kali (mirip tepuk tangan). Walaupun aturan tata cara berdoa ini bisa disebut baku namun sama sekali tidaklah bersifat mengikat. Berdoa tepat di depan altar utama, dari halaman kuil, dari luar pintu gerbang, dilakukan tidak dengan mencakupkan tangan namun memnbungkukan badan atau bahkan tidak berdoa sama sekali.

E. Kuil Shinto
Kuil Shinto atau Jinja dalam bahas Jepangnya adalah “tempat ibadah orang Jepang” , kuil tersebar di seluruh pelosok Jepang.

Ciri-ciri dari Kuil Shinto :
 Terbuka untuk semua orang
Kuil Shinto menganut konsep kebebasan yaitu bebas dari symbol dan doktrin agama. Semua orang bisa bebas untuk dating baik untuk tujuan doa maupun tidak. Dalam hal etika dan tata cara berkunjung ke tempat ibadah, sepertinya tidak ada yang lebih bebas dan sederhana dibandingkan dengan mengunjungi kuil Shinto. Hamper semua bagian dalam areal kuil bisa dimasuki ataupun difoto tanpa ada larangan ataupun pertnayaan apapun apalagi pertanyaan yang menjurus pada hal agama.

 Sederhana dan Menyatu dengan alam
Berbeda dengan kuil Budha. Atu tera yang cenderung megah besar dengan ornament dan moleksi barang berharga barang seni melimpah, kuil Shinto cenderung kebalikannya. Bangunannya cenderung sangat sederhana dan menyatu dengan alam. Dalam altar utama hampir kosong, tidak ada arca, patung atau benda apapun yang harus disembah sebagi perwujudan dari Dewa. Dalam literature sering disebutkan bahwa di dalam altar terdapt tiga benda utama yaitu, cermin, pedang, dan permata sebagai symbol dari refleksi diri, kekuatan dan cahaya. Namun ketiga benda tersebut hampir tidak akan terlihat karena dipajang dengan posisi yang tidak biasa. Kebanyakan masyarakat umum tidak terlalu peduli dengan hal itu.

 Pintu gerbang yang unik
Salah satu cirri khas dari jinja adalah bangunan pintu gerbangnya yang terdiri dari dua tonggak kayu atau batu yang biasanya berwarna jingga. Bangunan ini disebut Torii ini bisa ditemukan hampir disetiap sudut dan pelosok Jepang bahkan tempat terpencil sekalipun.
 Berfungsi sebagai Kuil penjaga desa
Biasanya di tengah pemukiman penduduk berfungsi sebagai kuil penjaga daerah yang sebagai tempat ibadah umum oleh penduduk daerah tersebut.
F. Shinto Saat Ini
Alasan Shinto tetap bertahan hingga saat ini :
 Menerima ajaran baru tanpa meninggalkan ajaran lama
Seperti kita ketahui, Shinto menganut konsep kebebasan dan mungkin ini berpengaruh pada cara berpikir orang Jepang yang bebas dari segala doktrin agama dan terkadang agak sekuler. Hal ini bisa dilihat dari ketidak konsistennya orang Jepang dalam beragama. Misalnya, ketika lahir sebagai Shinto, menikah dengan cara Kristen ketika meninggal menggunakan tata cara agama Budha.
 Menjunjung tinggi toleransi
Karena ketidak konsistennya masyarakat Jepang dalam beragama, maka tidak akan timbul kefanatikan terhadap agama tertentu. Agama apapun dapat berkembang di Jepang. Sehingga pluralisme agama diterima nyaris tanpa adanya hambatan. Bentuk contoh agama yaitu, bangunan kuil Budhha dan Shinto yang bedekatan lokasi satu sama lain.
 Shinto dianggap lebih memahami Kehidupan masyarakat Jepang
Hal ini dikarenakan ajaran Shinto lebih dekat dan memahami permasalahan sehari-hari masyarakat Jepang. Contohnya, berbagai festival dan upacara budaya seperti festval tanam padi, festival musim dan yang lebih modern adalah ritual peluncuran produk baru dari suatu perusahaan.
BAB III
Kesimpulan
Pengaruh Ajaran Shinto
Setelah kita memperhatikan uraian tentang Shinto kita dapat mengambil kesimpulan bahwa sebenarnya Shinto memiliki banyak pengaruh dalam pemikiran Jepang dan memiliki peranan penting dalam menjaga keaslian tradisi Jepang dari pengaruh asing. Shinto sudah seperti tradisi bagi masyarakat Jepang yang berkembang menjadi sebuah agama. Walaupun perkembangan teknologi sangat maju dan percepatan modernisasi yang amat pesat di Jepang, namun nilai-nilai Shinto tak akan pernah pudar. Dikatakan bahwa tidak ada negara lain di dunia ini yang memiliki sistem kepercayaan primitif sekuat Jepang..
Fungsi Shinto dalam mempertahankan Keaslian Tradisi Jepang :
Walaupun bangsa Barat menyebarkan agama Kristen di Jepang, namun masyarakat Jepang tidak meninggalkan semua ajaran Shinto. Contohnya seperti, ketika lahir menggunakan ritual Shinto dan ketika menikah mengunakan ajaran Kristen.
Ketika teknologi dari barat semakin berkembang, namun banyak budaya pop Jepang seperti manga, anime, dan video game yang merujuk pada ajaran Shinto.
Contohmya seperti, Dalam Naruto, Amaterasu dipersonifikasikan sebagai api yang kuat jutsu (teknik) yang terdiri dari hitam terpadamkan kobaran api yang membakar segala sesuatu di bidang pengguna visi selama tujuh hari tujuh malam. Teknik menggunakan mata kiri, yang merupakan referensi untuk Amaterasu lahir dari Izanagi ketika ia dibersihkan sendiri. It Hal ini dilakukan oleh Uchiha Itachi dan Uchiha Sasuke.

Beberapa pengaruh ajaran Shinto terhadap pemikiran Jepang :
Pengaruh budaya Shinto di Jepang hampir tidak dapat dibesar-besarkan. Walaupun sekarang hampir mustahil untuk menguraikan pengaruh dari Buddhisme, jelas bahwa semangat menjadi satu dengan alam yang memunculkan agama ini biasanya mendasari seperti seni Jepang sebagai bunga-mengatur (ikebana) dan arsitektur tradisional Jepang dan desain taman. Yang lebih eksplisit link ke Shinto dilihat di sumo gulat: pemurnian dari arena gulat oleh percikan garam dan banyak upacara-upacara lainnya yang harus dilakukan sebelum pertarungan dapat dimulai secara pasti Shinto berasal. Hal ini masih sangat umum untuk Jepang mengatakan, "Itadakimasu" (saya dengan rendah hati turut) sebelum makan, dan Jepang penekanan pada salam yang tepat dapat dilihat sebagai kelanjutan dari kepercayaan Shinto kuno kotodama (kata-kata dengan efek magis dunia ). Banyak kebiasaan budaya Jepang, seperti menggunakan kayu sumpit dan melepas sepatu sebelum memasuki bangunan, memiliki asal-usul mereka dalam kepercayaan Shinto dan praktek. Juga, beberapa agama-agama lain di Jepang, termasuk Tenrikyo, berasal dari atau dipengaruhi oleh Shinto.
 Pengaruh Shinto yang paling terburuk adalah mengambil nyawa orang lain untuk kemajuan dan kesenangan pribadi hal ini pengaruh dari ajaran Shinto yang tidak mengenal dosa. Mereka yang terbunuh tanpa menunjukkan rasa terima kasih atas pengorbanan mereka akan mengadakan "urami", dendam dan menjadi "aragami", yang kuat dan kejahatan yang berusaha membalas dendam.
 Shinto sangatlah mempengaruhi kepercayaan masyarakat Jepang tentang adanya hantu. Meraka meyakini bahwa orang yang telah meninggal dengan tidak wajar, arwahnya akan kembali ke dunia menjadi hantu yang menuntut balas.
 Di zaman modern ini Shinto berpengaruh pada perlunya kerjasama dan kolaborasi dapat dilihat di seluruh kebudayaan Jepang bahkan hari ini. Dengan demikian, di perusahaan-perusahaan Jepang yang modern tidak ada tindakan yang diambil sebelum konsensus tersebut tercapai (bahkan jika hanya secara dangkal) di antara semua pihak untuk mengambil keputusan.
 Menyatu dengan alam dan mencintai kebersihan
- Cinta alam: Alam sakral; untuk berhubungan dengan alam adalah menjadi dekat dengan kami. Benda alam mengandung disembah sebagai roh suci. Hal ini seperti kepercayaan Indonesia lama, khususnya di Jawa dan Bali juga mengenal ritual penghormatan untuk padi atau beras sebagi tempat bersemayam Dewi Sri atau Dewi Uma
- Fisik kebersihan: Pengikut Shinto mandi, mencuci tangan, dan berkumur mulut mereka sering.
 Tradisi orang Jepang terkait dengan Shinto Matsuri atau festival, yang sering menjadi daya tarik wisata Jepang. Pembagian Matsuri berdasarkan macamnya adalah sebagai berikut :
1. Tsukagirei yaitu upacara ritual terkait daur ulang hidup ; ex : upacara kelahiran, hamil, tujuh bulanan, shichi go san, kematian, dll
2. Nin I girei yaitu upacara ritual yang sifatnya insidental (sewaktu-waktu, kapan saja dan di mana saja)
3. Nenchugyoji yaitu upacara ritual yang dilakukan sepanjang tahun. Setiap doa yang dilakukan termasuk Matsuri, karena matsuri pada dasarnya adalah bentuk pendekatan diri pada dewa (berdoa).
Matsuri merupakan upacara ritual Shinto (memuja dewa), yang berfungsi sebagai bentuk pendekatan diri kepada dewa-dewa. Maka, dari pengertian dan pembagian tersebut, maka tak heran apabila ada sekitar 50.000 macam matsuri setiap tahunnya
 Shinto tidak dijalankan sebagai doktrinal filosofis, namun sebatas nilai-nilai umum saja. Maka, tak heran apabila kita sering melihat kasus bunuh diri (harakiri) dalam masyarakat Jepang, karena mereka memang tidak takut mati karena mereka tidak percaya adanya neraka.
 Origami dianggap sebagai "kertas dari roh-roh", dan sering ditinggal di kuil Shinto. Demi menghormati semangat pohon yang memberi hidupnya untuk menciptakan kertas, oragami sejati harus selalu dilipat ke dalam bentuk pemotongan tanpa tambahan untuk membantu itu.
Setelah kita mengetahui pengaruh apa saja yang dipengaruhi Shinto terhadap pemikiran Jepang, namun sebenarnya orang Jepang sendiri masih bingung tentang arti Shinto itu sendiri Meskipun sebagian besar orang Jepang mengikuti banyak tradisi Shinto sepanjang hidup, dan benar-benar menganggap diri mereka sebagai orang yang dikhususkan untuk komunitas kuil lokal dan Kami. Namun, banyak orang Jepang tidak berpikir bahwa mereka sedang mempraktikkan Shinto dan merupakan pengikut agama Shinto, walaupun apa yang mereka lakukan merupakan bagian dari ajaran Shinto

BAB IV

Daftar Pustaka
 Bunce, William K. 1995. Religion in Japan (Buddhism, Shinto, Christianity). Charles E. Tuttle Company: Rutland.

 http://www.jref.com/glossary/shinto_traditions.shtml diakses tanggal 14 Mei 2010

 http://en.wikipedia.org/wiki/Shinto_(pop_culture) diakses tanggal 14 Mei 2010

Komentar

Postingan populer dari blog ini

APLIKASI PERPUSTAKAAN DENGAN JAVA

Pengantar Kearsipan

Bahan Rujukan bagi Perpustakaan